Tuesday, May 6, 2008

Burung Origami

Dan ketika kertas-kertas ini dilipat
ketika itu jugalah datang angin
terus merasuk segenap inci langit
lalu, berterbanganlah kertas yang dilipat-lipat ini
hanya mata yang dapat memerhati
dapat jua memerhati

Tak sedikit pun mengharap ia sampai pada telapak tangannya
tak juga ia kunjung dan pergi
namun biar ia sempurna
bagai origami
yang kemudiannya berterbangan
disegenap inci langit...

Tuesday, March 18, 2008

Belansungkawa.

Kematian itu bukan satu permulaan. Bahkan ianya pasti...

Al-fatihah.
Untuk arwah atuk Elle...kembali ke rahmatullah pagi tadi.
hm.

Sunday, March 16, 2008

Blues.

Pada ketika ini aku memikirkan 13 orang+33 orang yang lain.
Hm...

Menarik kadang-kadang.
Manusia ini sungguh unik. Seorang saja sudah cukup untuk aku mengkagumi kebesaran Allah. Insaf seketika bila terfikir tentang sunnahtullah. Asal kejadian manusia itu.

Bercerita tentang perasaan, tentang cinta, tentang satu simbolik mahakarya alunan dan runtunan sanubari sungguh mempesonakan. Namun ianya terlalu rigid. Ada satu susunan yang perlu diikut dan diatur.

Definisi bodoh = egois.
Definisi telus = sahabat.
Definisi marah = sayang.
Definisi ketawa = kosong.

Mahabbah ini harus dipupuk agar talinya sekeras tali yang memegang erat leher-leher lembu jantan sebelum ke gelanggang.

Terkumat-kamit membaca zikrullah sambil jari-jemari mengira butiran tasbih agar dilorongkan cahaya menerangi segenap kelopak hati yang tersembunyi. Tolonglah Ya Allah...ikatkanlah hati-hati ini....

Umpama cinta tembikai laici.
Umpama kasihnya nasi goreng daging merah.
Takkan boleh dipisahkan keduanya.
:-)

Maaf kawan.
Aku hanya pemerhati.
Boleh berkongsi.
Tapi maaf.
Bukan pemeri.

Sebahagiannya masih hilang.
Waktu kicau burung bagai melodi yang memulakan setiap yang hidup, aku menghirup udaranya, mata yang terbuka untuk jadi saksi gema alam.
Alhamdulillah.
Masih diberi peluang.
Terkadang lupa.
Alhamdulillah.
Masih lagi diberi peluang.

Berbunga lagikah hati itu?
Mekar dan harum lagi kah?
Jangan biarkan aku ucap kata itu lagi.
Tolong.
Halang aku.

Aduhh.
Kata maaf tak lagi berharga.
Aku tau, salah.
4-5.
Hm.

Aku tak patut cakap ni,
kalau lah masa itu boleh diputar,
kalaulahh...

Terima kasih kerana membaca kata-kata merapu ni.
Saya jujur.
Ini sebabnya saya menulis ini.
Jujur.
:-)

Monday, March 10, 2008

Untuk sebuah hati.

Untuk dia.
hanya jika dia membaca ini...

Bukankah dia yang terus membuka mata
tatkala mentari menjelma
Sedang aku terlena terulit mimpi nan panjang
dewa-dewi pun bersembunyi
dibalik ketawanya itu
lalu,
terbias cahaya masuk ke jendela
kosong yang tiada ertinya
dan di isi satu persatu makrifat tuhan
yang sesungguhnya,
ketenangan yang dicari,
rupanya ada di sisi...


Wednesday, February 20, 2008

A Garden Beyond Paradise.

Everything you see has its roots,
in the unseen world,
The form may change,
yet the essence remains the same.

Every wondrous sight will vanish,
every sweet words will fade.
But do not be disheartened,
The Source they come from is eternal,
growing, branching out,
giving new life and new joy.

Why do you weep?
The Source is within you,
and this whole world,
is springing up from it.

The Source is full,
its water are ever flowing ;
Do not grieve,
drink your fill!
Don't think it will ever run dry,
This is the endless ocean!

From the moment you came into this world,
a ladder was placed in front of you,
that you might transcend it.

From earth, you became plant.
From plant, you became animal.
Afterwards you became a human being,
endowed with knowledge, intellect and faith.

Behold the body, born of dust
how perfect it has become!

Why should you fear its end?
When were you ever made less by dying?

When you pass this human form,
no doubt you will become an angel,
and soar through the heavens!

But don't stop there.
Even heavenly bodies grow old.

Pass again from the heavenly realm
and pludge into the ocean of consciousness.
Let the drop of water that is you
become a hundred mighty seas.

But do not think the drop alone
becomes The Ocean
The Ocean, too becomes the drop.

Rumi (1207-1273)

Monday, February 18, 2008

Biskut Tigerku.

Kali terakhir aku termenung dan tersenyum sorang-sorang ialah ketika dimana aku merasakan itulah tulusnya perasaan. Sedar tak sedar, perasaan itu tak terhitung harinya dan trus hilang. Bukan semudah yang disangka.
Ayat tak tersusun.
Patahku terkunci dek renungannya.
Syairku tersongsang dek senyumnya.
Aku menunggu masa sesuai untuk dikhabarkan berita hati ini.
Namun aku tak pasti, apakah simbolik hati ini?
Tunggulah,
belum masanya lagi.
kan?
Hm.